Jumat, 27 November 2009

Ketika Semua Mencapai Puncaknya

Awal pertemuan kami biasa saja.

Dia seorang ketua panita pelaksana PDSP, aku seorang mahasiswa yang mengikuti PDSP.

Dia memang menarik untuk dilihat dan aku tertarik.
Aku sama sekali tidak berharap dia juga tertarik padaku.

Karena jujur, dia itu terlalu "tinggi" untukku.

Seminggu PDSP berlalu biasa saja, lelah yang dirasa.

Pada minggu siang, aku terbangun dengan SMS yang berisi :

"Happy Sunday yah ! GBU :)"

Kalau tidak salah begitu isinya.

Aku berpikir, "Siapa yah? Tumben."

Dan akupun membalas, "Ini siapa?"

Dari situlah aku mulai mengenal dia, dia yang berinisial "D".

Wanita menarik dan cantik, yang aku rasa semua orang menyukainya,
apalagi aku.

Sebulan berlalu, dan rasa ini tumbuh demikian suburnya, sampai-sampai akupun
kehilangan akal untuk berpikir.

Kehilangan akal untuk bisa mengambil keputusan. Keputusan yang seharusnya mudah untuk diambil jika kita tahu bagaimana sesuatu akan berakhir.

Atau hanya aku yang terlalu takut?

Entahlah. Akupun tidak bisa berpikir kesitu.

Yang ada di pikiranku cuma :
  1. Aku sayang kamu.
  2. Aku ga mau kehilangan kamu.
  3. Kamu sesuatu yang terbaik yang terjadi padaku tahun ini.
  4. Aku bersyukur bisa kenal dan bisa sayang sama kamu
Hanya empat hal itu yang ada dan terus ada di kepalaku.

Semua berjalan berjalan baik-baik saja, meskipun kadang di malam hari kita suka membicarakan bagaimana ini semua akan berakhir, kapan ini semua akan diakhiri, mengapa ini semua harus berakhir dan hal-hal yang berkaitan dengan itu semua.

Sampai pada suatu malam, tepatnya malam ini dimana aku mendapat feeling bahwa sesuatu yang salah akan segera terjadi malam ini.

SMS masuk ke handphone-ku berisi kata-kata,

"Beb, maaf yaa klo aku ngebetein, aku pgn qta byasa2 aja dulu, aku lagi ga nyaman hati."

Dari situ feeling-ku semakin kuat. Akupun hanya bisa membalas, "Yaudah."

Ketika sampai di rumah, "D" menelpon.

Disitulah ketika semua mencapai puncaknya.
Ketika semua pertanyaan terjawab.
Ketika semua ketidak pastian menemukan jawaban.
Ketika dalam sekejap aku membenci kata "cinta"
Ketika semua perlahan menghilang.
ketika air mata turun untuk kesekian kalinya.
Ketika semua harus berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar